9
Bagi kebayakan orang yang belum mengenalnya bisa jadi ibu yang satu ini memang bukan siapa-siapa. Namun percaya atau tidak, bagi saya beliau adalah orang penting. Tanpa kehadiran wanita bernama lengkap Nuryati ini bisa-bisa proses belajar mengajar di sekolah saya yang menerapkan sistem belajar full day akan terganggu.

Ya. Bu Nuryati atau yang akrab dengan panggilan Bu Nur ini adalah salah satu “ibu dapur”. Beliau dipercaya menyiapkan makan siang dan snack untuk seluruh siswa dan guru di sekolah saya, SD IT Ukhuwah Islamiyah Kadirojo, Kalasan, Sleman.

Melihat jumlah yang harus disediakan, saya pikir pekerjaan beliau tidaklah ringan. Beliau mesti berpacu dengan waktu untuk menyediakan makanan bagi ratusan orang tepat waktu setiap hari. Namun karena dedikasi pada pekerjaan yang dilakoninya, tak pernah sekali pun beliau membuat warga sekolah kecewa.

Ibu Dapur dan Saya

Secara pribadi saya mengenal wanita berumur 47 tahun ini dan menjadikannya beliau sebagai sosok yang menginspirasi. Bagaimana tidak, beliau adalah satu dari para wanita pekerja keras yang harus keluar rumah untuk membantu suami mencari nafkah.

Tekanan ekonomi dan kebutuhan hidup yang terus meningkat telah menggerakkan hati beliau melakukan hal yang demikian, lebih-lebih karena penghasilan suami sebagai seorang tukang service sepeda dan motor juga tidak menentu.

Sebagai ibu dapur bisa jadi penghasilan beliau tidaklah banyak, namun setidaknya hal ini membantu meringankan beban suami memenuhi kebutuhan keluarga untuk mempertahankan tungku dapur selalu ngebul.

Walaupun bukan selibriti, di lingkungan sekolah maupun tepat tinggal tak ada yang tak mengenal Bu Nur. Beliau memang dikenal sebagai sosok yang sabar, ramah, lemah lembut budi bahasanya dan suka menolong. Ini pula yang membuat saya semakin kagum kepada beliau, begitu pula dengan teman-teman sekolah saya.

Masih membekas dalam ingatan saya manakala piring yang berisi makan siang saya pegang tumpah di lantai dapur sekolah. Saya kira saya saat itu beliau akan marah kepada saya. Namun tanpa saya sangka beliau malah tersenyum dan meminta saya untuk mengambil nasi dan lauk lagi. Kemudian beliau pun membersihkan lantai yang kotor karena kecerobohan saya tersebut.

Atas kejadian itu saya semakin menaruh hormat kepada beliau dan berfikir untuk membalas kebaikannya suatu saat ketika saya sudah sukses, atau setidaknya ketika sudah mempunyai penghasilan sendiri.